ETIKA KEPERAWATAN
HAK-HAK PASIEN
(menurut league for nursing,1997)
-hak memperoleh asuhan kesehatan sesuai standart profesional tanpa memandang tatanan kesehatan yang
ada
-hak untuk diperlakukan secara sopan dan santun,serta keramahn dari perawat yang bertugas tanpa
membedakan ras,warna kulit derajat di masyarakat jenis kelamin,kebangsaan,politis,dsb
-hak memperoleh informasi tentang diagnosis pengobatan, termasuk alternatif asuhan yang di berikan ,risiko
yang mungkin terjadi agar pasien dan keluarganya memahami dan dapat memberikan persetujuan atas
tindakan medis yang akan di lakukan terhadap nya
-hak legal untuk berpatisipasi dalam pembuatan keputusan tentang asuhan keperawatan yang akan di berikan
kepadanya
-hak menolakobservasi dari tim kesehatan yang tidak langsung terlibat dalam asuhan kesehatan nya
-hak mendapatkan privasi selama wawancara,pemeriksaan kesehatan,dan pengobatan
-hak mendapatkan privasi untuk berkomunikasi dan menerima kunjungan dari orang yang benar-benar di
setujui
-hak menolak pengobatan atau partisipasi dalam pelaksanaan penelitian dan eksperimenyang dilakukan
tanpa jaminan hukum bila terjadidampak yang merugikan
-hak terhadap koordinasi dan asuhan kesehatan yang berkelanjutan
-hak menerima pendidikan/intruksi yang tepat dari petugas kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan
tentang kebutuhan kesehatan dasar secara optimal
-hak kerahasiaan terhadap dokumen serta hasil komunikasi,baik secara lisan maupun tulisan yang di berikan
kepada petugas kesehatan,kecuali untuk kepentingan umum
HAK PERAWAT
-perawat berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum dalammelaksanakan tugas sesuai dengan
profesinya
-perawat berhak untuk mengembangakan diri melalui kemampuan spesialisasi sesuai dengan latar belakang
pendidikan nya
-perawat berhak untuk menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan,serta standart dan kode etik profesi
-perawat berhak untuk mendapat kan informasi lengkap dari pasien atau keluarganya tentang keluhan
kesehatan dan ketidak puasannya terhadap pelayanan yang di berikan
-perawat berhak untuk meningkat kan IPTEK berdasarkan perkembangan IPTEK dalam bidang
keperawatan/kesehatan secara terus menerus
-perawat berhak untuk diperlukan secara adil dan jujur oleh institusi pelayanan maupunoleh pasien/klien
-perawat berhak mendapatkan jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yang dapat menimbulkan bahaya
fisik maupun stres emosional
-perawat berhak diikutsertakan dalam penyusunan dan penetapan kebijaksanaan pelayanan kesehatan
-perawat berhak untuk menolak dipindahkan ketempat tugas lain,baik melalui anjuran atau pengumuman
tertulis karena di perlukan untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan standart profesi atau kode
etik keperawatan atau peraturan perundang-undangan lain nya
-perawat berhak untuk mendapatkan penghargaan dan imbalan yang layak dari jasa profesi yang di berikan
berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang berlaku diinstitusi pelyanan yang bersangkutan
-perawat berhak untuk memperoleh kesempatan mengembangkan karir sesuai dengan bidang profesinya
KEWAJIBAN PERAWAT
-perawat wajib mematuhi semua peraturan institusi yang bersengkutan
-perawat wajib memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan standart profesi dan
batas-batas penggunaan nya
-perawat wajib menghormati hak-hak pasien/klien
-perawat wajib merunjuk pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik,bila yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya sendiri
-perawat wajib memberikan kesempatan kepada pasien/ klien untuk berhubungan dengan keluarga
nya,sepanjang tidak bertentangan dengam peraturan atau standarat profesi yang ada
-perawat wajib memberikan kesempatan kepada pasien/klien untuk menjalankan ibadah nya sesuai dengan
agama atau kepercayaan masing-masing sepanjang tidak mengganggu pasien yang lain
-perawat wajib berkolaborasi dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan terkait lain nya dalam
memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada pasien/klien
-perawat wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan yang di berikan kepada
pasien/klien dan atau keluarganya sesuai dengan batas kemampuan nya
-perawat wajib meningkat kan mutu pelayanan keperawatan sesuai dengan standart profesi keperawatan
demi kepuasan pasien/klien
-perawat wajib membuat dokumentasi asuhan keperawatan secara akurat dan kesinambungan
-perawat wajib mengikuti perkembangan IPTEK keperawatan atau kesehatan secara terus menerus
-perawat wajib melakukan pelayanan darurat sebagai tugas kemanusiaan sesuai dengan batas-batas
kewenangan nya
-perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang di ketahuinya tentang klien/pasien,kecuali jika di minta
keterangan oleh pihak yang berwenang
-perawat wajib mematuhi hal-hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah di buat sebelum nya
terhadap institusi tempat bekerja
Sabtu, 31 Agustus 2013
Rabu, 28 Agustus 2013
ETIKA
a.menjelaskan penting nya etika dan hukum keperawatan dalam melaksanakan tugas
b.melakukan perilaku kinerja asisten
c.peralatan sesuai dengan etika dan hukum keperawatan
ETIKA KEPERAWATAN
pengertian etika adalah kode perilaku ,peraturan,prinsip untuk menilai apakah suatu perbuatan itu baik dan tidak baik,etis dan tidak etis
etiket/adat adalah merupakan sesuatu yang dikenal,diketahui,serta menjadi suatu kebiasaan di masyarakat
moral adalah perilaku yang di harapkan oleh masyarakat yang merupakan standart perilaku dan nilai yang harus di perhatikan bila seseorang menjadi anggota masyarakat tempat ia tinggal
kode etik keperawatan adalah kumpulan norma dan etika keperawatan yang tertulis sebagai dasar setiap anggota profesi dalam penerapan praktik keprofesinya
etika keperawatan adalah seperangkat tingkah laku agar perawat dapat berhubungan di lingkungan klien,keluarga dan masyarakat
TUJUAN ETIKA PROFESI:
-menjadi dasar untuk mengukur hubungan antara perawat dengan klien,perawat dengan masyarakat antar
sesama profesi
-menjadi landasan dalam menetapkan kurikulum pendidikan profesional
-menjadi dasar untuk perlindungan perawat dalam praktek
-membantu masyarakat memahami perilaku keperawatan
-menjadi kewajiban profesi keperawatan itu sendiri untuk secara terus menerus mengembang kan etika
profesinya
-memahami loyalitas anggota terhadap profesi
-menjadi wasiat bagi anggota profesi yang bertindak kurang profesional
MASALAH ETIKA KEPERAWATAN
-konflik peran antara nilai profesional dan nilai personal
-masalah antara sejawat dan profesi lain
-masalah antara perawat dan klien,perawat dengan keluarga dan perawat dengan masyarakat
-masalah perawat dan lembaga pelayanan kesehatan
-masalah konflik tanggung jawab
MENURUT PROF. AMAN AMIN
"etika sebagai pendorong kehendak untuk berbuat baik, akan tetapi tidak selalu berhasil kalau tidak ditaati oleh kesucian manusia".
ETIKA KEPERAWATAN
-di mengerti
-dihayati
KONSEP PROFESI TERKAIT ERAT DENGAN 3 NILAI SOSIAL,ANTARA LAIN:
-pengetahuan yang mendalam dan sistematik
-keterampilan teknis dan kiat yang di peroleh melalui latihan lama dan teknis
-memberikan pelayanan asuhan kepada yang memerlukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan
tehnis tersebut berpedoaman pada etika profesi
PENERAPAN KODE ETIK KEPERAWATAN:
-mempraktekkan profesi secara integritas
-taat pada profesi lain yang menjadi mitra kerja dan kepada klien
-memperkenalkan otonomi pekerjaan dan tetap berada dalam daerah pekerjaan yang menjadi wewenang
nya
-menguasai penampilan kerja dalam tugas nya dan trampil dalam pelaksanaan pelayanan
-tidak ada tugas yang di tunda demi kesejahteraan dan kenyamanan klien
-menerima keuangan untuk imbalan jaga hanya yang sesuai dengan perjanjian atau peraturan
-memegang teguh rahasia klien,orang lain yang di percaya kepada nya
-turut bertanggung jawab akan pemenuhan kebutuhan kesehatan klien
-melaksanakan advis dokter atau tim/perawat lain dimana ia bekerja
-menghindari percakapan tentang penyakit orang lain/perilaku orang lain
-memberikan obat hanya berdasarkan pesan dari atau pelimpahan dari dokter
-menghargai hakekat pakaian seragam, tidak memakainya di tempat umum
-menghargai kepercayaan atau agama klien
-melaksanakan peraturan yang di tetapkan dan yang telah di setujui dalam dalam hubngan orang lain
-tidak memperkenalkan dirinya melalui advertensi atau secara komersial lain nya
-menjadi anggota dan organisasi profesi sebagai wadah anggota profesi dan membina perkembangan profesi
-menjadi warga masyarakat institusi,warga almamater,warga masyarakat dan warga negra yang baik
a.menjelaskan penting nya etika dan hukum keperawatan dalam melaksanakan tugas
b.melakukan perilaku kinerja asisten
c.peralatan sesuai dengan etika dan hukum keperawatan
ETIKA KEPERAWATAN
pengertian etika adalah kode perilaku ,peraturan,prinsip untuk menilai apakah suatu perbuatan itu baik dan tidak baik,etis dan tidak etis
etiket/adat adalah merupakan sesuatu yang dikenal,diketahui,serta menjadi suatu kebiasaan di masyarakat
moral adalah perilaku yang di harapkan oleh masyarakat yang merupakan standart perilaku dan nilai yang harus di perhatikan bila seseorang menjadi anggota masyarakat tempat ia tinggal
kode etik keperawatan adalah kumpulan norma dan etika keperawatan yang tertulis sebagai dasar setiap anggota profesi dalam penerapan praktik keprofesinya
etika keperawatan adalah seperangkat tingkah laku agar perawat dapat berhubungan di lingkungan klien,keluarga dan masyarakat
TUJUAN ETIKA PROFESI:
-menjadi dasar untuk mengukur hubungan antara perawat dengan klien,perawat dengan masyarakat antar
sesama profesi
-menjadi landasan dalam menetapkan kurikulum pendidikan profesional
-menjadi dasar untuk perlindungan perawat dalam praktek
-membantu masyarakat memahami perilaku keperawatan
-menjadi kewajiban profesi keperawatan itu sendiri untuk secara terus menerus mengembang kan etika
profesinya
-memahami loyalitas anggota terhadap profesi
-menjadi wasiat bagi anggota profesi yang bertindak kurang profesional
MASALAH ETIKA KEPERAWATAN
-konflik peran antara nilai profesional dan nilai personal
-masalah antara sejawat dan profesi lain
-masalah antara perawat dan klien,perawat dengan keluarga dan perawat dengan masyarakat
-masalah perawat dan lembaga pelayanan kesehatan
-masalah konflik tanggung jawab
MENURUT PROF. AMAN AMIN
"etika sebagai pendorong kehendak untuk berbuat baik, akan tetapi tidak selalu berhasil kalau tidak ditaati oleh kesucian manusia".
ETIKA KEPERAWATAN
-di mengerti
-dihayati
KONSEP PROFESI TERKAIT ERAT DENGAN 3 NILAI SOSIAL,ANTARA LAIN:
-pengetahuan yang mendalam dan sistematik
-keterampilan teknis dan kiat yang di peroleh melalui latihan lama dan teknis
-memberikan pelayanan asuhan kepada yang memerlukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan
tehnis tersebut berpedoaman pada etika profesi
PENERAPAN KODE ETIK KEPERAWATAN:
-mempraktekkan profesi secara integritas
-taat pada profesi lain yang menjadi mitra kerja dan kepada klien
-memperkenalkan otonomi pekerjaan dan tetap berada dalam daerah pekerjaan yang menjadi wewenang
nya
-menguasai penampilan kerja dalam tugas nya dan trampil dalam pelaksanaan pelayanan
-tidak ada tugas yang di tunda demi kesejahteraan dan kenyamanan klien
-menerima keuangan untuk imbalan jaga hanya yang sesuai dengan perjanjian atau peraturan
-memegang teguh rahasia klien,orang lain yang di percaya kepada nya
-turut bertanggung jawab akan pemenuhan kebutuhan kesehatan klien
-melaksanakan advis dokter atau tim/perawat lain dimana ia bekerja
-menghindari percakapan tentang penyakit orang lain/perilaku orang lain
-memberikan obat hanya berdasarkan pesan dari atau pelimpahan dari dokter
-menghargai hakekat pakaian seragam, tidak memakainya di tempat umum
-menghargai kepercayaan atau agama klien
-melaksanakan peraturan yang di tetapkan dan yang telah di setujui dalam dalam hubngan orang lain
-tidak memperkenalkan dirinya melalui advertensi atau secara komersial lain nya
-menjadi anggota dan organisasi profesi sebagai wadah anggota profesi dan membina perkembangan profesi
-menjadi warga masyarakat institusi,warga almamater,warga masyarakat dan warga negra yang baik
Kamis, 14 Juni 2012
SUNAN AMPEL (seri 3)
SUNAN
Ampel benar-benar sudah diyakini oleh semua peneliti sejarah, “bukan
orang Jawa”. Ia adalah pendatang dari Campa atau Cempa atau Jeumpa.
Masih belum jelas, di mana tepatnya. Bahkan juga disebutkan bahwa Sunan
Ampel, berdarah Arab dan keturunan Cina.
Selain itu semua, ada lagi kisah tentang nasab atau garis keturunan Sunan Ampel. Dalam Babad Tanah Jawi- Galuh Mataram, versi Soewito Santoso, menegaskan bahwa Sunan Ampel berasal dari Arab dan masih keturunan Nabi Muhammad SAW (Shalallahu ‘Alaihi Wasallam).
Azzumardi
Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara
Abad XVII dan XVIII, Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di
Indonesia, 1994,halaman 30, bahwa ayah Sunan Ampel orang Arab bukan
sekadar “tutur tinular”, melainkan ada beberapa sumber tertulis
yang mendukung. Pendapat umum tersebut juga dikuatkan oleh keterangan
GWJ Drewes di depan rektor dan para dosen IAIN Kalijaga Jogjakarta, 21
November 1971, sebagaimana diberitakan pada Bulletin Antara, terbitan LKBN Antara, edisi pagi, 22 November 1971, halaman 1.
Salah
satu bangsa di dunia yang senang dan paling rajin mencatat nasab dan
silsilah adalah Bangsa Arab, terutama kaum Alawiyyin. Ini karena ciri
khas kaum ini yang bangga dan hormat terhadap orang tua dan leluhurnya.
Kabilah Arab menyusun cacatan silsilah ini dengan rapi. Syekh Al-Fadil
wa al-Tahrir al-Kamil Abi al-Faus al-Bagdadi yang biasa disebut
al-Syuwaidiy dalam bukunya: “Sabaik al-Zahab fi Ma’rifati Qabail al-Arab, menulis tentang silsilah dan pecahan kabilah di Arab perantau sampai ke India.
Dalam
kitab itu juga diuraikan tentang garis keturunan Nabi Muhammad SAW ke
Siti Fatimah yang menjadi penyebar agama Islam sampai ke Timur Jauh,
yakni: India, Kamboja, Siam, Annam, Malaysia dan Indonesia.
Dalam beberapa silsilah Nabi Muhammad yang kemudian sampai ke Sunan Ampel, terungkap pada Serat Babad Para Wali Tanah Jawa sebagai versi pertama,
silsilah dari 1’Nabi Muhammad terus ke generasi 2.Sayyidah Siti Fatimah
az-Zahra + Sayyidina Ali bin Abi Thalib, terus ke 3.Husein — 4.Ali
Zainal Abidin — 5.Muhammad al-Baqir — 6.Ja’far Shadiq — 7.Ali —
8.Muhammad — 9.Isa — 10.Ahmad Muhajir — 11.Ubaidullah — 12.Alwi —
13.Muhammad — Alwi — Ali Khaliq — Muhammad — Alwi — Abdul Malik —
Abdullah Khan — Ahmad Jamaluddin — Jamaluddin Akbar — Ibrahim dan terus
ke Raden Rahmat.
Versi kedua,
dari Nabi Muhammad terus ke Siti Fathimah az-Zahra + Sayyidina Ali bin
Abi Thalib — S.Husain — Ali Zainal Abidin (wali di Mindanau, Filipina) —
Zainal Alim — Zainal Kabir — Zainal Husain — Jumadil Kubra — Ibrahim
Asmara dan Raden Rahmat.
Versi ketiga,
urutan nasab Syarif Muhammad bin Ali Zainal Abidin, yaitu: dari 1.Nabi
Muhammad SAW terus ke 2.Siti Fathimah az-Zahra + Sayyidina Ali bin Abi
Thalib — 3.Husain – 4.Ali Zainal Abidin — 5.Muhammad al Baqir — 6.Ja’far
Shadiq — 7.Ali — 8.Muhammad — 9.Isa — 10.Ahmad Muhajir — Ubaidullah
—Alwi — Abdurrahman — Ahmad — Abdullah — Ali — Muhammad — Abdullah —
Muhammad — Ali — Nuhammad — Husen — Ali al Baqir — Ali Zainal Abidin —
Muhammad Abdul Malik dan Raden Rahmat.
Versi keempat,
berdasarkan silsilah Sunan Giri, sebagai berikut: dari Nabi Muhammad
SAW ke Siti Fathimah az-Zahra + Sayyidina Ali bin Abi Thalib – Husain —
Ali Zainal Abidin – Muhammad al Baqir — Ja’far Shadiq —Ali — Muhammad —
Isa — Ahmad Muhajir — Ubaidullah —Alwi — Muhammad — Alwi — Ali Khaliq —
Muhamad — Alwi — Ibrahim — Maulana Ishaq — Raden Rahmat.
Dari
empat versi di atas, versi pertama, apabila diperhatikan dari nama, ada
perbedaan sebutan nama-nama psds nomor urut keturunannya.
Silsilah
lainnya ada empat versi lagi, semua tentang garis nasab Raden Rahmat
atau Sunan Ampel dari Nabi Muhammad melalui Siti Fatimah.
Kendati
dari berbagai versi itu ada perbedaan, namun pada akhirnya ada
kesamaan, yakni keturunan terdekat Raden Rahmat adalah Ibrahim.
Gelar Raden
Biasanya,
kalau penyebar agama Islam berasal dari Arab, ia sering dipanggil
syekh. Sebagaimana panggilan untuk ulama besar di Sumatera, terutama di
Minangkabau atau Sumatera Barat. Tetapi itu sama sekali tidak, pada
Sunan Ampel dan beberapa sunan lainnya. Kecuali ada sebutan syekh untuk
Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Syekh Maulana Yusuf.
Berbagai sumber dan babad, semuanya menyatakan Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Rahmat.
Dalam
riwayat berikutnya, setelah menempuh perjalanan panjang dengan
menyeberangi samudera dan lautan, Rahmat datang pusat kerajaan Majapahit
bersama adiknya Raja Pandhita alias Santri dan anak pamannya bernama
Beureurah atau Burerah. Paman Rahmat atau ayah Burerah adalah Raja
Cempa. Di keraton Majapahit mereka bertiga diterima sebagai keluarga
kerajaan. Sebab, Rahmat dan Raja Pandhita alias Santri adalah kemenakan
dari permaisuri Prabu Brawijaya yang bernama Dewi Murtiningrum atau
dalam Babad Tanah Jawi – Galuh Mataram disebut Ratu Darawati.
Nah,
saat berada di Majapahit inilah, mereka bertiga memperolah gelar
“raden”, sehingga Rahmat menjadi Raden Rahmat, Raja Pandhita alias
Santri menjadi Raden Santri dan Beureurah menjadi Raden Burerah.
Kemudian,
Raden Rahmat sebagai ulama dan oleh Prabu Brawijaya diberi kesempatan
untuk menguasai suatu wilayah di Surabaya, tepatnya di Ampel. Tidak
hanya itu, dalam buku Oud Soerabaia (1931), karangan G.H.von Faber, halaman 288, disebutkan bahwa Raden Rahmat pindah bersama 3.000 keluarga pengikutnya (drieduizend huisgezinnen).
Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java (1817), halaman 117 menulis kepindahan Raden Rahmad dari keraton Majapahit ke Ampel disertai 3.000 keluarga (three thousand families). Sementara itu menurut Babad Ngampel Denta, jumlah orang yang boyongan bersama Raden Rahmat ke Ampel Surabaya sebanyak 800 keluarga (sun paringi loenggoeh domas). “Domas” menurut S.Prawiroatmodjo dalam buku Bausastra Jawa – Indonesia (1981) artinya delapan ratus.
Jadi,
pemberian gelar raden untuk Rahmat sehingga bernama Raden Rahmat,
karena ia dianggap sebagai bangsawan dan perlu mendapat penghormatan.
Bisa juga, karena dia sebelumnya bergelar asy-Syarif atau as-Syayyid
yang merupakan ningrat Arab, tulis G.F.Pijper dalam “Beberapa Studi
Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950” terjemahan Tudjimah dan Yessi
Augusdin (1984).
Berdasarkan
padanan itu, lalu disejajarkanlah Rahmat dengan keturunan raja-raja
Jawa, ia diberi gelar raden. Dengan adanya gelar raden itu, ia tidak
lagi menjadi orang asing di sini. Apalagi dalam riwayat berikutnya,
Raden Rahmat kawin dengan pribumi dan beranak-pinak sebagai “Orang
Jawa”.
Sunan dan Wali
Setelah
masa lalunya akrab dengan nama Raden Rahmat, kiprahnya dalam
menyebarkan agama Islam dari Surabaya, terus berkembang ke seluruh Tanah
Jawa. Raden Rahmat tidak sendiri, ia dibantu murid-murid dan
anak-anaknya.
Sebagai guru besar agama Islam ia kemudian mendapat julukan “Suhun”. Dalam buku Javaansch-Nedherlansch Handwooenboek (1901) karya J.F.C Gerieke dan T.Roorda, disebutkan bahwa Suhun merupakan
kata dasar dari Sunan. Nah, kemudian berubahlah panggilan suhun menjadi
sunan. Karena menetap di Ampel, maka Raden Rahmat kemudian popular
dengan sapaan Sunan Ampel.
Kata “wali”, berasal dari kalimat waliyullah atau
wali Allah. Dalam tradisi Jawa, terutama kalangan orang-orang Islam,
tulis Drs.H.Syamsudduha dalam Jejak Kanjeng Sunan (1999), “wali” tidak
hanya sekedar sebutan, tetapi ada “roh” atau “geest” di dalamnya.
Sebutan
wali di situ tidak bisa dilepaskan dari Al Quran, seperti terdapat
dalam Surat Yunus ayat 62-64. Ayat itu mengandung makna wali Allah,
ialah orang yang karena iman dan taqwanya tidak merasa takut, tidak
mengenal sedih, selalu gembira atau senantiasa optimistik dalam
perjuangan, karena yakin dengan janji Allah yang akan memberi kemenangan
dan keberhasilan.
Perkembangan
zaman dan semakin tumbuhnya kehidupan manusia, maka penyebaran Islam di
Tanah Jawa semakin nyata. Sunan Ampel tidak lagi sendiri, tetapi ada
delapan lagi penyebar agama Islam yang juga memperoleh gelar yang sama.
Dari delapan orang yang bergelar Sunan, satu di antaranya dipanggil
Syekh.
Sunan
Ampel dengan tujuh Sunan dan satu Syekh ini disebut sebagai Wali yang
sembilan atau Wali Sanga atau Wali Songo. Mereka adalah Sunan Ampel di
Surabaya, Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan
Drajat di Lamongan, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Kalijaga di Demak,
Sunan Muria di Gunung Muria, Sunan Kudus di Kudus dan Sunan Gunung Jati
di Cirebon.
Museum Wali Songo
Masyarakat
Surabaya patut bangga terhadap keberadaan Sunan Ampel. Betapa tidak,
sebab dengan adanya kiprah masa lalu Sunan Ampel itu, mengangkat derajat
Surabaya sebagai “Kota Relegius”. Kota yang peduli terhadap agama,
khususnya Islam. Berkat kiprah Sunan Ampel dengan segala peninggalan
sejarah yang dibuatnya, kini Surabaya dapat menjadi pusat sejarah Islam
di tanah Jawa.
Sunan
Ampel sebagai sunan yang “dituakan” di antara delapan Wali Songo
lainnya, menjadi Surabaya sebagai pangkal kegiatan ziarah “Wali Songo”.
Dan sudah umum, sebelum melakukan ziarah ke makam-makam Wali Songo,
Masjid Agung Ampel dan makam Sunan Ampel dijadikan tempat start. Dari sini baru kemudian menuju ke Gresik, Lamongan, Tuban, Gunung Muria, Kudus, Demak dan finish di Cirebon.
Biasanya,
kalau kita akan melakukan perjalanan jauh, maka di awal perjalanan kita
membuat perencanaan tentang tujuan selanjutnya. Saat berada di tempat
pemberangkatan awal, kita wajib mengetahui peta yang akan dituju
kemudian. Artinya, untuk ziarah Wali Songo, ketika masih berada di strat makam
Sunan Ampel, maka rencana kunjungan ke delapan wali lainnya sudah
dipersiapkan. Bahkan, gambaran tempat yang akan dituju sudah ada di
angan-angan.
Angan-angan
tentang Wali Songo itu harus berada di Surabaya, bentuk angan-angan itu
adalah suatu tempat yang mampu memberi gambaran ke depan. Jadi, apa
yang dikatakan mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Surabaya,
Drs.H.Muhtadi,MM sangat tepat.
Pemerintah
Kota Surabaya, harus dapat menciptakan gambaran keseluruhan tentang
Wali Songo itu dalam bentuk “Museum Wali Songo”. Dengan adanya gambaran
yang diperagakan dan diinformasikan dari Museum Wali Songo, maka para
wisatawan atau peziarah memperoleh bekal yang sangat berguna.
Museum Wali Songo di Surabaya harus mampu memberi gambaran masing-masing aktivitas ke sembilan wali itu.
Selain
kiprah Sunan Ampel yang sudah banyak diungkap, di museum itu perlu
digambarkan secara jelas tentang Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan
Giri di Gresik. Begitu pula dengan Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan
Muria, Sunan Kudus, Sunan kalijaga dan Sunan Gunung Jati.
Tentunya,
apa yang digagas Muhtadi itu layak memperoleh dukungan dari petinggi
Kota Surabaya, yakni Walikota Surabaya bersama Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kota Surabaya, perguruan tinggi serta masyarakat pencinta
sejarah. Dengan kebersamaan semua pihak, insya Allah, gagasan tentang
pendirian Museum Wali Songo di Surabaya dapat diwujudkan.
SUNAN AMPEL (seri 2)
Masyarakat
sejarah sudah memastikan dan meyakini, bahwa Sunan Ampel memang bukan
asli dari Jawa. Ada yang menyebut berasal dari Campa, Cina Selatan dan
ada pula yang menyatakan berasal dari Arab. Kendati demikian, pada saat
peringatan HUT ke-710 Kota Surabaya, ada peristiwa bersejarah yang
terjadi Rabu, 28 Mei 2003. Masjid Muhammad Cheng Ho di Jalan Gading 2
Surabaya diresmikan oleh Menteri Agama RI. Saat upacara peresmian itu
dari “bisik-bisik” terungkap kisah lain tentang asal-usul Sunan Ampel.
Ia dikatakan berasal dari Cina atau keturunan Tionghoa.
Sebelumnya diungkapkan asal-usul Sunan Ampel berdasarkan versi Babad Para Wali, Babad Tanah Jawi dan Babad Ngapeldenta. Ada lagi versi lain, versi “Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan” yang manuskrip aslinya disimpan di Reksopustoko, Solo.
Berbeda
dengan versi sebelumnya, ada lagi versi lain tentang Sunan Ampel, versi
Kronik Sam Po Kong, Semarang. Parlindungan dalam bukunya “Tuanku Rao”,
terbitan Tanjung Pengharapan, menulis, bahwa Sunan Ampel keturunan
Tionghoa atau Cina. Nama asli Sunan Ampel atau Raden Rahmat adalah Bong
Swie Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng dari Campa. Tahun 1447, Bong Swie
Hoo di Tuban nikah dengan puteri Haji Gan Eng Tju yang pupular dengan
panggilan Nyi Ageng Manila.
Sedangkan
Slamet Muljana dalam buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya
Negara-negara Islam di Nusantara” terbitan Bhatara, Jakarta, 1968
halaman 103, mengidentifikasikan Haji Gan Eng Tju sebagai Arya Teja.
Berita
tentang orang-orang Cina Muslim yang menetap di Jawa, pertama kali
diberitakan oleh Ma Huan. Ia berkunjung ke Jawa tahun 1407 dalam suatu
rombongan utusan kaisar Tiongkok ke Asia Tenggara. Kisah ini dibukukan
dengan judul Yeng-yei Sheng-lan (Catatan umum tentang pantai dan samudera raya).
Berdasarkan
data ini, diungkap bahwa Sunan Ampel berdarah Cina, maka dugaan
tersebut dikuatkan oleh gambar Sunan Ampel yang disimpan di Amsterdam.
Gambar itu ditemukan oleh Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Malang,
direproduksi oleh Panitia Lustrum ke-2 Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Sunan Ampel, 5 Juli 1975.
Kunjungan
Cheng Ho ke Asia Tenggara, diduga sebagai salah satu sebab banyaknya
saudagar Cina berimigrasi secara besar-besaran ke berbagai negeri di
Asia Tenggara ini, termasuk Indonesia. Di antaranya menetap di Surabaya.
Dua
peneliti Bangsa Belanda, De Graaf dan Pigeaud menulis, masyarakat Islam
yang ada di Gresik dan Surabaya, banyak yang berasal dari Cina,
khususnya Hindia Belakang atau Indo Cina. Nama wilayah yang terkenal
waktu itu adalah Campa. Pada waktu dinasti Yuan dan Ming berkuasa di
Cina, Campa berada di Provinsi Yunnan. Penguasa terkenal di wilayah ini,
tulis Drs.H.Sjamsudduha dalam buku Jejak Kanjeng Sunan, Perjuangan
Walisongo (1999) adalah Say Dian Chih.
Campa
tahun 1471 dikuasai oleh orang Annam atau Vietnam, kecuali satu daerah
yang bernama Pandurangga. Dalam ekspedisinya, Cheng Ho juga sering kali
singgah di Campa. Tetapi, Buya Hamka dalam bukunya “Sejarah Umat Islam”
penerbit Nusantara, Bukittinggi, menegaskan bahwa Sunan Ampel atau Raden
Rahmat bukan berasal dari Campa, Indo Cina, melainkan dari Cempa atau
“Jeumpa” di Aceh.
Hingga sekarang “Jeumpa” itu masih ada di Aceh, sebagai nama kecamatan dengan ibukota Bireun, Kabupaten Aceh Utara.
Sebenarnya
kisah dan cerita tentang Sunan Ampel ini masih banyak, tetapi tidak
sama. Masing-masing punya versi sesuai dengan sumber yang diteliti.
Kendati demikian, sebagai obyek wisata suci (ziarah), sangat layak
masalah Sunan Ampel ini ditelusuri lebih teliti lagi.
Peninggalan
Sunan Ampel terdapat di kawasan Ampel, selain ada masjid Agung dan
komplek makam Sunan Ampel, juga terdapat puluhan makam pengikutnya.
Kembang Kuning
Salah
satu peninggalan lain Sunan Ampel adalah Masjid Rahmat di daerah
Kembang Kuning, Surabaya. Konon ceritanya, saat Raden Rahmat mendapat
restu dari Prabu Brawijaya untuk tinggal di Ngampeldenta, Surabaya.
Sebelum sampai di tujuan, ia sempat beristirahat dan tinggal di daerah
Kembang Kuning.
Selama
berada di Kembang Kuning, Raden Rahmat mendirikan rumah dan masjid. Ada
yang mengindentikkan perjalanan Raden Rahmat dari pusat kerajaan
Majapahit ke Ngampeldenda, seperti Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke
Madinah. Di mana, Rasulullah Muhammad SAW, sebelum sampai di kota
Madinah berhenti dulu dan tinggal di Quba. Di kota yang jaraknya sekitar
5 kilometer dari Madinah itu, nabi membangun masjid pertama, yakni
Masjid Quba.
Sedangkan
Raden Rahmat sebelum sampai di Ngampeldenta, singgah dan membangun
masjid di Kembang Kuning. Sampai sekarang masjid peninggalan Raden
Rahmat itu masih ada di Kembang Kuning yang diberi nama Masjid Rahmat.
Letaknya, juga sekitar 5 kilometer dari daerah Ampel.
Tidak hanya itu, di Kembang Kuning ini menurut naskah Badu Wanar dan naskah Drajad, tarikh Auliya,
halaman 6, disebutkan bahwa Raden Rahmat sempat menikah dan dua anaknya
dari perkawinan itu lahir di sini. Keduanya puteri, yakni: Dewi
Mustasiyah dan Dewi Murtasimah.
Versi
lain menyebut, waktu itu Raden Rahmat dengan isteri pertama mempunyai
delapan orang anak, yaitu: Sunan Bonang, Sakban Gunung Muria alias
Pangeran Sobo, Maulana Joko Lor Sunan Kudus, Dewi Murtasiyah, Nyi Ageng
Maloko, Maulana Zainuddin Penghulu Demak, Maulana Hasyim Sunan Drajad
dan Maulana Abdul Jalil alias Asmara Jepara.
Satu
versi lagi menyatakan, bahwa waktu bersiteri dengan wanita dari Kembang
Kuning, Raden Rahmat mengumpulkan dua isterinya dalam satu rumah.
Dengan dua isteri itu Raden Rahmat mempunyai tujuh orang anak, yakni:
Siti Murtasimah, Siti Syari’ah, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Siti
Muthmainnah, Siti Murtasiyah dan Siti Hafsyah.
Kecuali
versi-versi di atas, ada pula versi lain yang mengungkap Raden Rahmat
mempunyai tiga isteri, masing-masing: Nyi Ageng Manila, Nyi Ageng Bela
(kemenakan Arya Teja) dan seorang lagi tidak diketahui namanya. Dari
isteri pertama punya empat anak, yaitu: Sarifuddin, Makdum Ibrahim, Nyi
Ageng Maloko, dan seorang puteri yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga.
Dengan isteri kedua, punya dua anak: Hasyim Syahib Drajad dan
Muthmainnah. Dari isteri ketiga, empat orang anak, yakni: Murtosiyah,
Ratu Asyiqah, Alawiyah (Ibu Danang) dan Maulana Hasanuddin.
Mbah Bungkul
Warga
Kota Surabaya pasti mengenal nama Mbah Bungkul. Makamnya terletak di
Jalan Raya Darmo, tepatnya di Jalan Progo. Di sana ada tanah lapang yang
lazim disebut Taman Bungkul. Sedangkan makam Mbah Bungkul berada di
bagian timur taman yang dipagari, serta terlindung di balik tembok.
Selain makam Mbah Bungkul, di sana juga ada beberapa makam keluarga dan
pengikutnya.
Para
penziarah yang berkunjung ke Masjid Agung Ampel dan makam Sunan Ampel,
tidak jarang juga melakukan perjalanan ritual berkesinambungan ke Makam
Mbah Bungkul.
Nah, apa hubungan Sunan Ampel dengan Mbah Bungkul? Ternyata, Mbah Bungkul adalah besan Sunan Ampel.
Sahibul
hikayat, Mbah Bungkul semula bernama Ki Ageng Supa. Sewaktu masuk agama
Islam, namanya diganti menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Ia mempunyai seorang
puteri bernama Siti Wardah.
Suatu
hari, Ki Ageng Mahmuddin berkeinginan menikahkan puterinya. Namun ia
belum mendapatkan jodoh. Untuk mencari jodoh puterinya itu, Ki Ageng
Mahmuddin bernazar melakukan sayembara. Uniknya, sayembara itu tidak
terbuka, tetapi hanya diungkapkan dalam hati Ki Ageng Mahmuddin.
Ki
Ageng Mahmuddin menghanyutkan satu buah delima ke Kalimas (Mungkin, di
pinggir sungai dekat Jalan Darmokali sekarang). Ketika melemparkan
delima itu ia mengucapkan nazarnya, siapa yang menemukan buah delima
itu, kalau ia laki-laki, maka akan diambil menjadi menantu yang akan
dinikahkan dengan Dewi Wardah.
Kebetulan
di bagian hilir sungai Kalimas (ya, kira-kira dekat Jalan Pegirian
sekarang), seorang santri Sunan Ampel yang sedang mandi menemukan buah
delima itu. Si santri menyerahkan buah delima itu kepada gurunya, Sunan
Ampel. Oleh Sunan Ampel buah delima itu disimpan.
Besoknya,
Ki Ageng Mahmuddin menelusuri bantaran Kalimas. Sesampainya di
pinggiran Kalimas dekat Ngampeldenta, ia melihat banyak santri mandi di
sungai. Ada keyakinan Ki Ageng Mahmuddin, bahwa yang menemukan buah
delima itu adalah salah satu di antara santri Sunan Ampel.
Tanpa
pikir panjang, Ki Ageng Mahmuddin menemui Sunan Ampel. Ia bertanya
kepada Sunan Ampel, apakah ada dari santrinya yang menemukan buah delima
yang hanyut saat mandi di Kalimas? Sunan Ampel menjawab ada, bahkan
delima itu ia yang menyimpannya setelah diserahkan oleh seorang santri.
Ki Ageng lalu mengungkapkan tentang nazarnya itu kepada Sunan Ampel.
Sunan
Ampel lalu mengatakan, santri yang menemukan buah delima itu bernama
Raden Paku. Maka sesuai dengan nazarnya, ia minta kepada Sunan Ampel
untuk sudi memperkenalkan laki-laki itu kepadanya dan sekaligus
diizinkan untuk dinikahkan dengan anaknya, Dewi Wardah.
Sunan
Ampel tidak dapat menolak, karena nazar wajib untuk dilaksanakan. Maka
disetujuilah pernikahan Raden Paku dengan Dewi Wardah.
Ada
keunikan dalam cerita ini, ternyata pada hari yang ditetapkan itu,
sebenarnya Sunan Ampel juga menikahkan puterinya Dewi Murtasiyah dengan
Raden Paku. Jadi, pada hari yang sama, Raden Paku menikah dengan dua
wanita. Pagi hari dengan Dewi Murtasiyah anak Sunan Ampel dan petang
harinya dengan Dewi Wardah anak Ki Ageng Mahmuddin alias Mbah Bungkul.
Begitulah
ceritanya, karena ada keterkaitan antara Ki Ageng Mahmuddin yang juga
dipanggil Mbah Bungkul itu dengan Sunan Ampel dalam hubungan
“perbesanan”, maka para penziarah ke kawasan Ampel, juga menyempatkan
diri berziarah ke makam Mbah Bungkul.
SUNAN AMPEL (seri 1)
Nah,
siapakah sebenarnya Sunan Ampel itu? Seperti telah diungkap sebelumnya,
umumnya penduduk Kota Surabaya adalah para pendatang dan perantau dari
daerah lain di Nusantara ini. Bahkan, tidak sedikit pula yang berasal
dari manacanegara. Selain dari Eropa, juga banyak yang berasal dari
Timur Tengah, khususnya Arab, India dan Cina. Sunan Ampel, juga
pendatang. Ia merantau atau hijrah ke Surabaya, menetap dan kemudian
wafat sebagai “bunga bangsa” di Kota Pahlawan ini..
Nama Sunan Ampel abadi di Surabaya. Karya dan buah
tangannya sebagai warga Surabaya masih ada sampai sekarang. Sunan Ampel
adalah waliullah, ulama besar yang menumbuhkembangkan ilmu yang sangat
bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Jadi, Surabaya patut
berbangga, sebab sunan yang dituakan di antara Walisongo adalah Sunan
Ampel.
Apabila
ditelusuri jejak Walisongo di Surabaya cukup banyak, namun yang menonjol
ada di tiga tempat. Pertama: kawasan Ampel, kedua: Masjid Rahmat dan
ketiga: komplek Makam Mbah Bungkul.
Kawasan
Ampel, sebuah kawasan permukiman di sekitar Masjid Agung Ampel di daerah
Pegirian, Surabaya Utara. Di sini selain berdiri masjid peninggalan
Sunan Ampel, di sekitarnya terdapat makam Sunan Ampel bersama para
pengikutnya. Kawasan Ampel ini sudah sejak lama dijadikan obyek “wisata
suci” atau ziarah oleh masyarakat dari berbagai daerah di Nusantara,
juga dari luar negeri.
Masjid
Ampel ini juga biasa dijadikan tempat start untuk kegiatan ziarah
Walisongo. Setelah mengunjungi masjid dan makam Sunan Ampel, perjalanan
dilanjut ke delapan walisongo lainnya. Makam Maulana Malik Ibrahim dan
makam Sunan Giri di Gresik, makam Sunan Drajat di Lamongan, makam Sunan
Bonang di Tuban, makam Sunan Kudus di Kudus, makam Sunan
Muria di lereng Gunung Muria, makam Sunan Kalijaga di Demak dan makam
Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Siapa Sunan Ampel
Pendapat
umum mengatakan, bahwa Sunan Ampel bukan orang Jawa, tetapi orang Campa
dan ayahnya berasal dari Arab. Ini memang bukan sekedar “tutur tinular”,
melainkan ada beberapa sumber tertulis yang mendukung. Pendapat umum
itu juga dikuatkan oleh keterangan G.W.J.Drewes di depan rektor dan para
dosen IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta bulan November 1971.
Ada
beberapa versi tentang siapa dan dari mana asal Sunan Ampel. Dalam
penelitian sejarah yang dilakukan para ahli, diakui bahwa informasi
tertulis dan prasasti yang digoris di atas batu atau lempengan logam
tentang Sunan Ampel sama sekali tidak ada.
Saat
dilangsungkan Festival Walisongo I di Surabaya, Juni 1999 lalu, Yayasan
Festival Walisongo menerbitkan buku Jejak Kanjeng Sunan – Perjuangan
Walisongo. Pada buku itu, juga dijelaskan, para ahli tidak pernah
menemukan naskah atau manuskrip yang ditulis pada masa hidupnya atau
waktu yang agak dekat sesuadah wafatnya sampai sekarang.
Manuskrip yang mengisahkan serba sedikit tentang Sunan Ampel, baru ada pada zaman Kerajaan Mataram, seperti: “Babad Tanah Jawi”.
Naskah yang lain umumnya ditulis pada abad ke 18 dan 19. Padahal kalau
kita telusuri, Sunan Ampel hidup pada abad 14 atau sekitar tahun 1331 M –
1400 M. Pada “Babad Ngampeldenta” yang naskah aslinya disimpan di Yayasan Panti Budaya di Jogjakarta baru selesai diturun-tulis (titi tamat noeroen soengging) pada Hari Rabu Legi, tanggal 16 Jumadil Akhir 1830, bertepatan dengan 2 Oktober 1901.
Drs.H.Sjamsudduha
yang menjadi narasumber tentang Sunan Ampel dalam buku Jejak Kanjeng
Sunan – Perjuangan Walisongo, menyebutkan manuskrip yang bercerita
tentang Sunan Ampel yang agak rinci, ada dua naskah tulisan “pegon” yang ditemukan di Dusun
Badu, Desa Wanar, Kecamatan Pucuk dan Desa Drajat, Kecamatan Paciran,
Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Selanjutnya naskah itu disebut: naskah
Badu Wanar dan naskah Drajat.
Kecuali itu, juga ada Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan yang disimpan di Perpustakaan Reksopustoko Surakarta, Jawa Tengah.
Para ahli
sepakat menyebut nama lain Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Saat berusia
20 tahun, waktu itu sekitar tahun 751 H atau 1351 M, pria ini datang ke
pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Tempat Raden Rahmat ini, ada
tiga versi. Ada yang menyatakan ia kelahiran Cempa (Jeumpa), Aceh, ada
yang menyebut Campa, sebuah kota di Kamboja, Indocina. Bahkan ada yang
cukup ekstrim, Sunan Ampel diakui keturunan Cina dengan nama Bong Swie
Ho. Dalam kronik Sam Po Kong di bawah angka tahun 1445, dinyatakan Bong Swie Ho adalah cucu Haji Bong Tek Keng dari Campa.
Babad Para Wali
Berdasarkan
naskah Badu Wanar dan naskah Drajat, dikisahkan, Raden Rahmat datang ke
Majapahit bersama kakaknya, bernama Raja Pandhita dan Raden Burerah
anak Raja Kamboja. Raden Rahmat dan Raja Pandhita adalah anak kandung
seorang guru agama Islam bernama Maulana Ibrahim Asmara dengan isterinya
Candrawulan, dari Tulin, Campa.
Kedatangan
Raden Rahmat dan Raja Pandhita yang diantar Raden Burerah ke pusat
Majalapahit adalah untuk menemui bibinya Dewi Murtiningrum yang menjadi
permaisuri raja Brawijaya. Setelah sampai dan menetap di Majapahit,
mereka diperlakukan sebagai putera raja Brawijaya. Saat berada di sini,
mereka ditertawakan karena melaksanakan shalat, sebab waktu itu
Majapahit belum mengenal Islam. Raja Brawijaya tidak melarang mereka
menunaikan ibadah secara Islam. Merekapun diminta menetap di Majapahit
dan diberi jabatan sebagai tumenggung.
Raden
Rahmat menikah dengan Raden Ayu Candrawati anak dari Arya Teja, Mantri
di Tuban. Sedangkan Raja Pandhita kawin dengan Raden Ayu Maduretna anak
Arya Babirin dari Arosbaya, Madura.
Raden
Rahmat yang kemudian menetap di kampung Ampeldenta, mempunyai lima orang
anak, yakni: Siti Syari’ah, Siti Muthmainnah, Siti Hasyfah, Ibrahim dan
Raden Qasim. Raden Rahmat, juga menikah dengan puteri Ki Bang Kuning,
bernama Mas Karimah dan mempunyai dua orang anak perempuan, Mas
Murtabiyah dan Mas Murtasimah.
Babad Tanah Jawi I
Versi Babad Tanah Jawi (Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen
1647 – W.L.Olthof), disebutkan, raja Cempa kedatangan orang seberang
bernama Makdum Ibrahim Asmara. Ia memohon agar raja masuk Islam.
Permintaan itu dikabulkan raja dan juga diikuti seluruh rakyatnya.
Raja Cempa
menikahkan anak perempuannya dengan dengan Makdum Ibrahim dan mempunyai
dua orang putera, Raden Rahmad dan Raden Santri. Sedangkan Raja Cempa
ini juga punya anak laki-laki bernama Raden Burerah.
Raden
Rahmat bersama adiknya minta izin kepada raja yang juga kakeknya itu
untuk pergi ke Majapahit menemui bibinya. Raja Cempa mengizinkan asal
ditemani oleh Raden Burerah. Mereka bertiga sampai di Majapahit dan
bertemu dengan Raja Brawijaya. Raden Rahmat kemudian menikah dengan
puteri Tumenggung Wilatikta, bernama Gede Manila dan bertempat tinggal
di Ampeldenda.
Raden
Burerah dan Raden Santri menikah dengan puteri Arya Teja. Yang tua
dengan Raden Santri dan adiknya dengan Raden Burerah. Mereka berdua
bertempat tinggal di Gresik.
Babad Tanah Jawi II
Babad
Tanah Jawi (BTJ) versi ke dua ini disebut BTJ Galuh Mataram – Suwito
Santoso, bercerita seperti berikut. Ada seorang sultan di negeri Arab
yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW, mempunyai anak laki-laki bernama
Syekh Ibrahim. Suatu hari Ibrahim diperintah kakaknya pergi ke Tanah
Jawa untuk mengislamkan penduduknya. Setelah berlayar, sampai di negeri
Cempa dan bertemu raja Cempa. Dia menetap di sini dan diberi gelar Syekh
Wali Lanang dan ia berhasil mengajak raja Cempa masuk Islam. Syekh Wali
Lanang kemudian dikawinkan dengan puterinya yang muda, adik Ratu
Darawati yang kawin dengan raja Brawijaya V di Majapahit.
Kebetulan
datang seorang kemenakan Ratu Darawati dari Cempa, bernama Raden Rahmat
putera Syekh Ibrahim alias Wali Lanang. Prabu Brawijaya, mengangkat
Raden Rahmat sebagai Sunan di Ngampel, sehingga ia dikenal sebagai Sunan
Ampel. Waktu itu Prabu Brawijaya mengizinkan rakyat Majapahit memasuki
agama Islam, asal tidak ada paksaan, tetapi baginda sendiri tidak mau
memeluk agama Islam.
Babad Ngampeldenta
Manuskrip
yang disimpan di Panti Budaya, Jogjakarta dengan nomor PB A.200,
sekarang disimpan di Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo Jogjakarta.
Alih hurufnya dilakukan Dr.Th.Pigeaud tahun 1939. Di sini diungkapkan,
Sang Pandhita, yakni Maulana Ibrahim Asmara menikah dengan Retna Sujinah
dari Cempa, juga beristeri dari Aceh. Dengan Ratna Sujinah ia punya dua
putera laki-laki diberi nama Raden Rahmat. Adiknya yang lahir kemudian
diambil anak oleh isteri yang dari Aceh dan diberi nama Raden Atmaja.
Raden
Rahmat dengan dua pengiringnya, berbekal dua surat menghadap raja
Majapahit. Surat pertama menyatakan bahwa yang datang adalah kemenakan
sang prameswari, dan surat yang satu lagi berisi ajakan Syekh Maulana
Ibrahim Asmara beserta isteri dan raja Cempa, serta ibundanya, agar raja
Majapahit berkenan memeluk Islam. Apabila raja belum berkenan, ayunda
saja yang masuk Islam. Surat itu juga memberitahu, bahwa Raden Rahmat
telah paham dan menguasai segala ilmu, sehingga patut menjadi ulama.
Raden
Rahmat diberi tempat tinggal di Ngampel dengan pengikut yang banyak.
Delapan ratus keluarga atau somah beralih masuk Islam. Raja tidak
melarang rakyatnya pindah agama, terserah kesukaannya sendiri.
Ada satu lagi versi tentang siapa Raden Rahmat atau Sunan Ampel, diungkapkan dalam Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan. Cerita seperti di bawah ini.
Madum
Ibrahim di Cempa berputera dua orang laki-laki, yang tua bernama Raden
Rahmat, yang muda bernama Raden Santri, putera raja Cempa bernama Raden
Burerah. Raden Rahmat bersama adiknya pergi ke Pulau Jawa untuk
menjenguk bibinya di Majapahit. Sesampai di Majapahit menghadap raja dan
mereka diterima dengan sangat senang. Mereka di Majapahit sudah
setahun.
Raden
Rahmat menikah dengan puteri Arya Teja. Puteri Arya teja yang kedua
menikah dengan Raden santri, yang tengah menikah dengan Raden Burerah.
Putera Arya teja yang bungsu Tumenggung Wilatikta.
Raden
Rahmat ditempatkan di dusun Ngampeldernta, dan diberi gelar Sunan
Ngampeldenta. Raden Santri dan Raden Burerah diberi sebidang tanah di
Gresik sebagai dusun tempat tinggal.
Raden
Rahmat memohon kepada raja agar memeluk agama Islam. Raja Brawijaya
belum ingin masuk agama Islam, tetapi semua orang Jawa yang ingin masuk
agamaq Islam tidak dibatasi, terserah mereka yang menyenanginya.
Adipati
Bintara terus datang di Ngampel, menghadap Sunan Ngampelgadhing. Tatkala
itu di negeri Surabaya sudah Islam semua. Adipati Bintara memohon izin
untuk menyerbu negara Majapahit, karena sekalipun yang memerintah negara
itu orangtuanya sendiri, tetapi diua kafir, tidak mau mengikuti Islam.
Sunan Ampel melarang, karena ayahandanya tidak pernah mencegah orang
masuk Islam. Beliau memberi kebebasan dan memberi sejumlah orang untuk
ikut pindah dan menjadi muslim dan mukmin. Di Surabaya mereka membangun
agama.
Apa
jeleknya paduka raja. Adapun beliau belum mau masuk agama Islam, karena
Allah belum menghendakinya. Jangan mendahului takdir, hendaklah menerima
kehendak Allah. Adipati Bintara mendengar dengan takzim. Adipati
Bintara hanya dua hari di Surabaya, terus pulang ke Demak.
Tatkala
Sunan Ngampeldenta wafat, para wali semuanya datang. Mereka memandikan
dan mensalatkannya. Para wali sama menangis. Sesuadah dimakamkan di
Ngampelgadhing, Sunan Giri hadir dan ditetapkan menjadi imam (pemimpin)
para wali. Sunan Bonang juga hadir. Trah (kerabat keturunan)
Ngampelghading banyak yang menjadi waliyullah, seperti Murya dan
Ngudung. Begitulah negara Demak makin ramai dan para wali sepakat untuk
mendirikan kerajaan.
Manuskrip
asli dari babad di atas disimpan di Reksopustoko, Solo; alih huruf
Martodarmono pada tahun 1988, halaman 8-9, 40 dan 57.
SUNAN KALIJAGA
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah Putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.
Berdasarkan
satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga
di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering
berendam di sungai (kali), atau jaga kali (penunggu sungai). Sedangkan
versi yang lain mengatakan beliau menunggu tungkat Sunan Bonang di tepi
sungai. Apapun versinya yang jelas beliau mempunyai hubungan yang sangat
erat dengan sungai.
Kemudian kaedah ini berkembang menjadi sebuah ritual Kum kum Sebuah
teknik ritual pernafasan tenaga dalam dan kebatinan yang di katakan
sangat cepat membangunkan tenaga dalaman dan tenaga kerohanian
seseorang.
Fakta di atas saya kutipkan dari sebuah naskah kuno yang bertajuk Mertasinga yang
merupakan pesan yang disampaikan, oleh Syekh Ataullah, salah satu guru
dari Sunan Gunung Jati. Naskah ini diterjemahkan oleh Bapak Amman N.
Wahjoe, yang memiliki dokumen ini secara turun menurun dalam keluarganya
dan kepada anak muridnya. Penulis merupakan salah seorang yang terlibat
dalam mengembangkan metode Sunan Kalijaga ini.
Kaedah
kum kum ini merupakan sebuah Ritual kerohanian warisan Kanjeng Sunan
Kalijaga dan sangat popular bagi peminat ilmu kebatinan ”manunggaling
kuala gusti” menyatu tidak bersatu, bercerai tidak berjauhan.
Sebuah konsep sufi yang sangat terkenal dengan keampuhan pembangkitan tenaga kerohanian.
Dalam
metode ini atau kaedah mengamalkan sesuatu kebatinan Versi Sunan
Kalijaga ini beberapa media tertentu .Media – media ini di perlukan
sebagai saranan untuk meringankan sukma dan membuka pintu tenaga dalaman
anda.
CERITA RAKYAT SUNAN PANDAN ARANG
Ki
Pandan Arang I yang dalam pemerintahannya cukup cukup merasa sangat
menderita dan kecewa kerana putri kesayangan yang cantik jelita
menderita sakit lumpuh. Segala iktiar telah di lakukan , malangnya semua
usaha beliau gagal dan tidak ada kemajuan. Putrinya tetap lumpuh.
Sehinggalah beliau mempunyai nadzar, barang siapa dapat menyembuhkan putrinya akan diambil sebagai menantu.
Pads suatu hari Sunan Kalijaga memberitahu bahwa di Gunung Gede ada orang yang pandai bernama Ranawijaya berasal dari Majapahit. Atas permintaan Ki Pandan Arang I, Ranawijaya datang ke Kadipaten. Dengan doa khusus beliau mendoakan sang putri. Akhirnya sang Putri dapat di sembuhkan . Akhirnya Ranawijaya diambil sebagai menantu.
Pada saat Ki Pandan Arang I meninggal dunia, Ranawijaya menggantikan dengan gelar Ki Pandan Arang II. Daerahnya maju pesat, rakyatnya makmur termasuk perkembangan agama Islam cukup memuaskan. Namun kemakmuran dan keberhasilan dalam pemerintahannya membuat Ki Pandan Arang II lupa diri, ia jadi congkak, sombong dan kedekut. Ia selalu mengejar harta walaupun sudah melimpah ruah.
Pads suatu hari Sunan Kalijaga memberitahu bahwa di Gunung Gede ada orang yang pandai bernama Ranawijaya berasal dari Majapahit. Atas permintaan Ki Pandan Arang I, Ranawijaya datang ke Kadipaten. Dengan doa khusus beliau mendoakan sang putri. Akhirnya sang Putri dapat di sembuhkan . Akhirnya Ranawijaya diambil sebagai menantu.
Pada saat Ki Pandan Arang I meninggal dunia, Ranawijaya menggantikan dengan gelar Ki Pandan Arang II. Daerahnya maju pesat, rakyatnya makmur termasuk perkembangan agama Islam cukup memuaskan. Namun kemakmuran dan keberhasilan dalam pemerintahannya membuat Ki Pandan Arang II lupa diri, ia jadi congkak, sombong dan kedekut. Ia selalu mengejar harta walaupun sudah melimpah ruah.
Mengetahui
keadaan semacam itu Sunan Kalijaga datang menyamar sebagai penjual
rumput. Dalam kesempatan tawar menawar disisipkan peringatan terhadap
perilaku Ki Pandan Arang II yang telah menyimpang dari ajaran agama
Islam. Berulang kali Sunan Kalijaga datang memperingatkan namun tak
dihiraukan. Akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya, setiap
tanah yang dicangkulnya berubah menjadi sebongkah emas dan diberikan
kepada Pandan Arang.
Pandan
Arang sangat heran terhadap kesaktian penjual rumput. Setelah diketahui
bahwa penjual rumput itu Sunan Kalijaga maka bersujud dan bertaubat.
Pandan Arang melepaskan kedudukannya sebagai Adipati ingin berguru
kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyanggupi mengajarkan ilmu di
Gunung Jabalkat dengan syarat perjalanan yang di tempuh tidak boleh
membawa harta benda.
Setelah bulat tekadnya Pandan Arang bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat, Dasar naluri seorang wanita, Nyi Pandan Arang memasukkan seluruh perhiasannya dan sementara uang dinar ke dalam tongkat yang akan dibawanya. Dalam perjalanan Nyi Pandan Arang tertinggal jauh dari suaminya. Dia dihadang tiga orang penyamun. Direbutnya tongkat tongkatnya dan seluruh bawaannya. " Kangmas, tolong! Ada tiga orang penyamun! (Jawa: Kangmas, tulung! Wonten Tyang, salah, tiga.... lebih kurang saya berbahasa jawa he he he ) ".
Menurut yang punya cerita tempat itu sekarang diberi nama Salatiga (salah-tiga). Pada saat Ni Pandan Arang kembali menolong istrinya, tiga orang penyamun itu marsh merebut perhiasan yang dipakai Nyi Pandan Arang. Melihat sikap kasar para penyamun Ki Pandan Arang menjadi marah. " Hei! Manusia mengapa nekad seperti kambing domba (Jawa : E, wong kok drufhus kaya wedhus)."
Setelah bulat tekadnya Pandan Arang bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat, Dasar naluri seorang wanita, Nyi Pandan Arang memasukkan seluruh perhiasannya dan sementara uang dinar ke dalam tongkat yang akan dibawanya. Dalam perjalanan Nyi Pandan Arang tertinggal jauh dari suaminya. Dia dihadang tiga orang penyamun. Direbutnya tongkat tongkatnya dan seluruh bawaannya. " Kangmas, tolong! Ada tiga orang penyamun! (Jawa: Kangmas, tulung! Wonten Tyang, salah, tiga.... lebih kurang saya berbahasa jawa he he he ) ".
Menurut yang punya cerita tempat itu sekarang diberi nama Salatiga (salah-tiga). Pada saat Ni Pandan Arang kembali menolong istrinya, tiga orang penyamun itu marsh merebut perhiasan yang dipakai Nyi Pandan Arang. Melihat sikap kasar para penyamun Ki Pandan Arang menjadi marah. " Hei! Manusia mengapa nekad seperti kambing domba (Jawa : E, wong kok drufhus kaya wedhus)."
Dengan
izin Allah wajah Sambangdalan ( pemimpin penyamun ) itu berubah menjadl
domba atau kaldai. Para penyamun takut mefihat kesaktian Ki Pandan
Arang. Sambangdalan bertaubat dan minta supaya wajahnya dikembalikan
seperti semula. Pandan Arang memaafkan kesalahannya tetapi wajahnya
tetap seperti domba. Sambangdalan akhirnya menjadi pengikut Pandan Arang
dan lebih dikenal dengan nama Syeh Domba....
Kesaktian Sunan Kalijaga
Dari
Sunan Kali Jaga terus Ki Pandan Arang dan Akhirnya Syeh Domba.
dikatakan memiliki beberapa keilmuan kerohanian yang sangat luar biasa
dengan Izin Allah. Menurut Guru kepada guru saya yang mempunyai sejarah
dan wasilah sehingga kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga dikurniakan
berbagai karomah dan kesaktian adalah disebabkan mendekatkan dirinya
dengan Allah sedekat dekatnya.
Menurut guru saya lagi. Apabila Allah mencintai kita maka terjadilah ”pentajalian” segala sifat-sifatnya terhadap terhadap hamba. Kata beliau lagi ” bukan kamu yang melontar, tapi Allah yang melontar, bukan kamu yang melihat tetapi Allah yang melihat”. Salah
satu syair hasil karya sunan Bonang , Boleh saya kutipkan disini
terjemahan dari syair yang aslinya berbahasa Jawa tersebut:
Obat hati ada lima perkara.
Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua, shalat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Siapa yang bisa melakukan salah satunya
Semoga Tuhan memberikan penyembuhnya.
Jika
pekara – pekara di atas anda jadikan panduan insyaallah, kita akan
berjaya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Selain dari pekara yang telah
saya sebutkan diatas Sunan kalijaga mempunyai auratnya yang tersendiri.
Menurut karangan kuno Mertasinga mengatakan. Amalan atau aurat tersebut Sunan Kalijaga mendapatkan dari Sunan Bonang secara wejangan di atas perahu.
Menurut
ceritanya keampuhan amalan tersebut apa bila di bacakan pada sesuatu
akan memberi barokah. Ini terbukti sewatu amalan tersebut di Ijazahkan
kepada sunan kalijaga, kebetulan seekor cacing yang di sumpah dari
seorang manusia. Mencuri dengar amalan tersebut. Dengan Izin Allah
segala sumpahan terhadap itu telah tamat dan terbatal. Maka cacing
tersebut bertukar menjadi seorang manusia yang bernama Syeh Siti Jenar.
Ini merupakan sebuah cerita rakyat yang kebenaranya hanyalah pembaca
yang menilaikanya.
Maka
amalan tersebut sangat di Rahsiakanya, menurut cerita rakyat sewaktu
Sunan Kalijaga mencangkul tanah dan menukarkanya menjadi Emas amalan ini
di baca terus menerus. Amalan ini di ajar turun temurun dari sunan Kali
jaga kepada murid kesayangan beliau sehinggalah kepada penulis.
Amalan tersebut adalah Doa Nurun Nurbuah yang sangat terkenal ini, Cuma bezanya adalah kaedah cara mengamalkanya. Doa
Nurun Nurbuah yang di amalkan dengan menggunakan metode Kanjeng Sunan
Kali Jaga. Adalah sangat berbeza dengan kaedah pengamalan yang di
pelajari dari pondok-pondok atau majlis Ilmu Kerohanian yang lain.Untuk
pengetahuan anda semua Doa Nurun Nurbuat mempunyai berbagai Versi. Varsi
yang kami gunakan merupakan Versi asal dari Wali sembilan Khususnya
dari Kanjang Sunan Kalijaga. Menggunakan Metode asal dan prasyarat dari
Kanjeng Sunan Kalijaga.
Langganan:
Postingan (Atom)


