Kamis, 14 Juni 2012

SUNAN AMPEL (seri 2)

Masyarakat sejarah sudah memastikan dan meyakini, bahwa Sunan Ampel memang bukan asli dari Jawa. Ada yang menyebut berasal dari Campa, Cina Selatan dan ada pula yang menyatakan berasal dari Arab. Kendati demikian, pada saat peringatan HUT ke-710 Kota Surabaya, ada peristiwa bersejarah yang terjadi Rabu, 28 Mei 2003. Masjid Muhammad Cheng Ho di Jalan Gading 2 Surabaya diresmikan oleh Menteri Agama RI. Saat upacara peresmian itu dari “bisik-bisik” terungkap kisah lain tentang asal-usul Sunan Ampel. Ia dikatakan berasal dari Cina atau keturunan Tionghoa.
 Sebelumnya diungkapkan asal-usul Sunan Ampel berdasarkan versi Babad Para Wali, Babad Tanah Jawi dan Babad Ngapeldenta. Ada lagi versi lain, versi “Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan” yang manuskrip aslinya disimpan di Reksopustoko, Solo.
Berbeda dengan versi sebelumnya, ada lagi versi lain tentang Sunan Ampel, versi Kronik Sam Po Kong, Semarang. Parlindungan dalam bukunya “Tuanku Rao”, terbitan Tanjung Pengharapan, menulis, bahwa Sunan Ampel keturunan Tionghoa atau Cina. Nama asli Sunan Ampel atau Raden Rahmat adalah Bong Swie Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng dari Campa. Tahun 1447, Bong Swie Hoo di Tuban nikah dengan puteri Haji Gan Eng Tju yang pupular dengan panggilan Nyi Ageng Manila.
Sedangkan Slamet Muljana dalam buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara” terbitan Bhatara, Jakarta, 1968 halaman 103, mengidentifikasikan Haji Gan Eng Tju sebagai Arya Teja.
Berita tentang orang-orang Cina Muslim yang menetap di Jawa, pertama kali diberitakan oleh Ma Huan. Ia berkunjung ke Jawa tahun 1407 dalam suatu rombongan utusan kaisar Tiongkok ke Asia Tenggara. Kisah ini dibukukan dengan judul Yeng-yei Sheng-lan (Catatan umum tentang pantai dan samudera raya).
Berdasarkan data ini, diungkap bahwa Sunan Ampel berdarah Cina, maka dugaan tersebut dikuatkan oleh gambar Sunan Ampel yang disimpan di Amsterdam. Gambar itu ditemukan oleh Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Malang, direproduksi oleh Panitia Lustrum ke-2 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, 5 Juli 1975.
Kunjungan Cheng Ho ke Asia Tenggara, diduga sebagai salah satu sebab banyaknya saudagar Cina berimigrasi secara besar-besaran ke berbagai negeri di Asia Tenggara ini, termasuk Indonesia. Di antaranya menetap di Surabaya.
Dua peneliti Bangsa Belanda, De Graaf dan Pigeaud menulis, masyarakat Islam yang ada di Gresik dan Surabaya, banyak yang berasal dari Cina, khususnya Hindia Belakang atau Indo Cina. Nama wilayah yang terkenal waktu itu adalah Campa. Pada waktu dinasti Yuan dan Ming berkuasa di Cina, Campa berada di Provinsi Yunnan. Penguasa terkenal di wilayah ini, tulis Drs.H.Sjamsudduha dalam buku Jejak Kanjeng Sunan, Perjuangan Walisongo (1999) adalah Say Dian Chih.
Campa tahun 1471 dikuasai oleh orang Annam atau Vietnam, kecuali satu daerah yang bernama Pandurangga. Dalam ekspedisinya, Cheng Ho juga sering kali singgah di Campa. Tetapi, Buya Hamka dalam bukunya “Sejarah Umat Islam” penerbit Nusantara, Bukittinggi, menegaskan bahwa Sunan Ampel atau Raden Rahmat bukan berasal dari Campa, Indo Cina, melainkan dari Cempa atau “Jeumpa” di Aceh.
Hingga sekarang “Jeumpa” itu masih ada di Aceh, sebagai nama kecamatan dengan ibukota Bireun, Kabupaten Aceh Utara.
Sebenarnya kisah dan cerita tentang Sunan Ampel ini masih banyak, tetapi tidak sama. Masing-masing punya versi sesuai dengan sumber yang diteliti. Kendati demikian, sebagai obyek wisata suci (ziarah), sangat layak masalah Sunan Ampel ini ditelusuri lebih teliti lagi.
Peninggalan Sunan Ampel terdapat di kawasan Ampel, selain ada masjid Agung dan komplek makam Sunan Ampel, juga terdapat puluhan makam pengikutnya.
Kembang Kuning
Salah satu peninggalan lain Sunan Ampel adalah Masjid Rahmat di daerah Kembang Kuning, Surabaya. Konon ceritanya, saat Raden Rahmat mendapat restu dari Prabu Brawijaya untuk tinggal di Ngampeldenta, Surabaya. Sebelum sampai di tujuan, ia sempat beristirahat dan tinggal di daerah Kembang Kuning.
Selama berada di Kembang Kuning, Raden Rahmat mendirikan rumah dan masjid. Ada yang mengindentikkan perjalanan Raden Rahmat dari pusat kerajaan Majapahit ke Ngampeldenda, seperti Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah. Di mana, Rasulullah Muhammad SAW, sebelum sampai di kota Madinah berhenti dulu dan tinggal di Quba. Di kota yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari Madinah itu, nabi membangun masjid pertama, yakni Masjid Quba.
Sedangkan Raden Rahmat sebelum sampai di Ngampeldenta, singgah dan membangun masjid di Kembang Kuning. Sampai sekarang masjid peninggalan Raden Rahmat itu masih ada di Kembang Kuning yang diberi nama Masjid Rahmat. Letaknya, juga sekitar 5 kilometer dari daerah Ampel.
Tidak hanya itu, di Kembang Kuning ini menurut naskah Badu Wanar dan naskah Drajad, tarikh Auliya, halaman 6, disebutkan bahwa Raden Rahmat sempat menikah dan dua anaknya dari perkawinan itu lahir di sini. Keduanya puteri, yakni: Dewi Mustasiyah dan Dewi Murtasimah.
Versi lain menyebut, waktu itu Raden Rahmat dengan isteri pertama mempunyai delapan orang anak, yaitu: Sunan Bonang, Sakban Gunung Muria alias Pangeran Sobo, Maulana Joko Lor Sunan Kudus, Dewi Murtasiyah, Nyi Ageng Maloko, Maulana Zainuddin Penghulu Demak, Maulana Hasyim Sunan Drajad dan Maulana Abdul Jalil alias Asmara Jepara.
Satu versi lagi menyatakan, bahwa waktu bersiteri dengan wanita dari Kembang Kuning, Raden Rahmat mengumpulkan dua isterinya dalam satu rumah. Dengan dua isteri itu Raden Rahmat mempunyai tujuh orang anak, yakni: Siti Murtasimah, Siti Syari’ah, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Siti Muthmainnah, Siti Murtasiyah dan Siti Hafsyah.
Kecuali versi-versi di atas, ada pula versi lain yang mengungkap Raden Rahmat mempunyai tiga isteri, masing-masing: Nyi Ageng Manila, Nyi Ageng Bela (kemenakan Arya Teja) dan seorang lagi tidak diketahui namanya. Dari isteri pertama punya empat anak, yaitu: Sarifuddin, Makdum Ibrahim, Nyi Ageng Maloko, dan seorang puteri yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga. Dengan isteri kedua, punya dua anak: Hasyim Syahib Drajad dan Muthmainnah. Dari isteri ketiga, empat orang anak, yakni: Murtosiyah, Ratu Asyiqah, Alawiyah (Ibu Danang) dan Maulana Hasanuddin.
Mbah Bungkul
Warga Kota Surabaya pasti mengenal nama Mbah Bungkul. Makamnya terletak di Jalan Raya Darmo, tepatnya di Jalan Progo. Di sana ada tanah lapang yang lazim disebut Taman Bungkul. Sedangkan makam Mbah Bungkul berada di bagian timur taman yang dipagari, serta terlindung di balik tembok. Selain makam Mbah Bungkul, di sana juga ada beberapa makam keluarga dan pengikutnya.
Para penziarah yang berkunjung ke Masjid Agung Ampel dan makam Sunan Ampel, tidak jarang juga melakukan perjalanan ritual berkesinambungan ke Makam Mbah Bungkul.
Nah, apa hubungan Sunan Ampel dengan Mbah Bungkul? Ternyata, Mbah Bungkul adalah besan Sunan Ampel.
Sahibul hikayat, Mbah Bungkul semula bernama Ki Ageng Supa. Sewaktu masuk agama Islam, namanya diganti menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Ia mempunyai seorang puteri bernama Siti Wardah.
Suatu hari, Ki Ageng Mahmuddin berkeinginan menikahkan puterinya. Namun ia belum mendapatkan jodoh. Untuk mencari jodoh puterinya itu, Ki Ageng Mahmuddin bernazar melakukan sayembara. Uniknya, sayembara itu tidak terbuka, tetapi hanya diungkapkan dalam hati Ki Ageng Mahmuddin.
Ki Ageng Mahmuddin menghanyutkan satu buah delima ke Kalimas (Mungkin, di pinggir sungai dekat Jalan Darmokali sekarang). Ketika melemparkan delima itu ia mengucapkan nazarnya, siapa yang menemukan buah delima itu, kalau ia laki-laki, maka akan diambil menjadi menantu yang akan dinikahkan dengan Dewi Wardah.
Kebetulan di bagian hilir sungai Kalimas (ya, kira-kira dekat Jalan Pegirian sekarang), seorang santri Sunan Ampel yang sedang mandi menemukan buah delima itu. Si santri menyerahkan buah delima itu kepada gurunya, Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel buah delima itu disimpan.
Besoknya, Ki Ageng Mahmuddin menelusuri bantaran Kalimas. Sesampainya di pinggiran Kalimas dekat Ngampeldenta, ia melihat banyak santri mandi di sungai. Ada keyakinan Ki Ageng Mahmuddin, bahwa yang menemukan buah delima itu adalah salah satu di antara santri Sunan Ampel.
Tanpa pikir panjang, Ki Ageng Mahmuddin menemui Sunan Ampel. Ia bertanya kepada Sunan Ampel, apakah ada dari santrinya yang menemukan buah delima yang hanyut saat mandi di Kalimas? Sunan Ampel menjawab ada, bahkan delima itu ia yang menyimpannya setelah diserahkan oleh seorang santri. Ki Ageng lalu mengungkapkan tentang nazarnya itu kepada Sunan Ampel.
Sunan Ampel lalu mengatakan, santri yang menemukan buah delima itu bernama Raden Paku. Maka sesuai dengan nazarnya, ia minta kepada Sunan Ampel untuk sudi memperkenalkan laki-laki itu kepadanya dan sekaligus diizinkan untuk dinikahkan dengan anaknya, Dewi Wardah.
Sunan Ampel tidak dapat menolak, karena nazar wajib untuk dilaksanakan. Maka disetujuilah pernikahan Raden Paku dengan Dewi Wardah.
Ada keunikan dalam cerita ini, ternyata pada hari yang ditetapkan itu, sebenarnya Sunan Ampel juga menikahkan puterinya Dewi Murtasiyah dengan Raden Paku. Jadi, pada hari yang sama, Raden Paku menikah dengan dua wanita. Pagi hari dengan Dewi Murtasiyah anak Sunan Ampel dan petang harinya dengan Dewi Wardah anak Ki Ageng Mahmuddin alias Mbah Bungkul.
Begitulah ceritanya, karena ada keterkaitan antara Ki Ageng Mahmuddin yang juga dipanggil Mbah Bungkul itu dengan Sunan Ampel dalam hubungan “perbesanan”, maka para penziarah ke kawasan Ampel, juga menyempatkan diri berziarah ke makam Mbah Bungkul.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar